Pada 5-8 Desember 2025, Tim ICCI (Fidaus Putra dan Anis Saadah) memaparkan tiga buku yang dirancang sebagai upaya untuk menjawab tantangan pengembangan koperasi agar tetap relevan dengan dinamika zaman. Paparan tersebut disampaikan di hadapan Dinas Koperasi dan UKM Kota Denpasar, Bali, dalam sebuah forum yang juga diikuti oleh berbagai pemangku kepentingan koperasi setempat. Ketiga buku tersebut menawarkan pendekatan yang saling melengkapi: mulai dari revitalisasi koperasi yang telah ada, pengembangan koperasi di sektor ekonomi baru, hingga inovasi dalam metode pembinaan koperasi.
Buku pertama berjudul āKompas Revitalisasi Koperasiā, yang menyajikan delapan pendekatan strategis untuk melakukan revitalisasi koperasi, khususnya Koperasi Unit Desa (KUD). Buku ini lahir dari refleksi atas berbagai tantangan yang dihadapi koperasi lama yang perlu beradaptasi dengan perubahan ekonomi dan sosial. Melalui delapan pendekatan yang ditawarkan, koperasi dapat menilai kembali posisi dan arah pengembangannya secara lebih terstruktur.
Dalam kegiatan lokakarya yang menyertai pemaparan buku tersebut, pendekatan Kompas Revitalisasi diperkenalkan secara interaktif kepada para pengurus KUD. Melalui sebuah kanvas khusus, peserta diajak untuk terlebih dahulu mengenali status dan posisi koperasi mereka dalam siklus hidup organisasi. Setelah itu, mereka diminta menelaah delapan opsi pendekatan revitalisasi yang tersedia dan memilih strategi yang paling relevan dengan kondisi koperasi masing-masing. Para peserta kemudian mempresentasikan hasil analisis kanvas mereka, yang membantu mereka mengidentifikasi secara lebih jelas tantangan, potensi, serta arah pengembangan koperasi ke depan.
Buku kedua adalah āOrange Coopā, yang menawarkan strategi pengembangan koperasi di sektor ekonomi oranye atau ekonomi kreatif. Dalam konteks Bali, pendekatan ini menjadi sangat relevan mengingat kekayaan budaya, seni, dan kreativitas masyarakat yang telah lama menjadi kekuatan ekonomi daerah. Buku ini menguraikan berbagai skenario kelembagaan serta model bisnis koperasi yang dapat dikembangkan di dalam rantai nilai ekonomi kreatif, mulai dari sektor seni pertunjukan, kerajinan, desain, hingga industri kreatif berbasis digital. Melalui pendekatan tersebut, koperasiābaik yang telah ada maupun yang baru terbentukādidorong untuk lebih peka dalam mengenali potensi kreatif di sekitarnya dan mengorganisasikannya dalam model usaha yang kolaboratif dan berkelanjutan.
Sementara itu, buku ketiga berjudul āCoop Spaceā, yang memperkenalkan pendekatan baru dalam pembinaan koperasi melalui penciptaan ruang kolaborasi. Konsep ini mengusulkan agar dinas koperasi membangun semacam co-working space koperasi yang berfungsi sebagai pusat aktivitas, pembelajaran, dan inovasi bagi para pelaku koperasi. Di dalam ruang tersebut, berbagai layanan dapat dihadirkan, seperti inkubasi bisnis, fasilitasi jejaring usaha, pertemuan dan kontak bisnis, hingga ruang berbagi pengetahuan antarpelaku usaha koperasi. Pendekatan Coop Space juga dinilai strategis untuk menarik minat generasi muda, karena menghadirkan ekosistem koperasi yang lebih terbuka, kreatif, dan adaptif terhadap perkembangan ekonomi modern.
Secara keseluruhan, ketiga buku tersebut menawarkan perspektif yang saling melengkapi dalam membangun masa depan koperasi. Kompas Revitalisasi Koperasi memberikan arah bagi koperasi lama untuk bertransformasi, Orange Coop membuka peluang bagi koperasi untuk masuk ke sektor ekonomi kreatif yang bernilai tambah tinggi, sementara Coop Space menghadirkan pendekatan baru dalam menciptakan ekosistem pembinaan koperasi yang lebih kolaboratif dan inovatif. Melalui ketiga gagasan ini, ICCI berupaya mendorong koperasi Indonesia untuk tidak hanya bertahan menghadapi perubahan zaman, tetapi juga menjadi aktor penting dalam ekonomi masa depan yang lebih kreatif, inklusif, dan berkelanjutan. []

Post a comment