Sebuah Obituari Mengenang Mendiang Irsyad MuchtarÂ
Oleh: Firdaus Putra, HC.
Dinamika koperasi Indonesia selalu bermula dari pergumulan ide. Ide menjelma praktik, menjelma karya, menjelma kebijakan, dan pada akhirnya menjelma sejarah. Setiap epos melahirkan gagasan-gagasan yang membentuk wajah zamannya. Dan gagasan yang kuat, yang berdaya ubah dan berdaya tahan, akan melembaga. Gagasan itu akan menjadi bagian dari fondasi gerakan koperasi Tanah Air.
Pada 5 Januari lalu, Irsyad berkabar tentang satu niat besar. Ia ingin merangkai serpihan-serpihan gagasan itu dalam sebuah buku bertajuk “100 Ideas That Change How We View Cooperatives.” Ia bertanya kepada saya: siapa saja yang patut masuk dalam daftar itu? Siapa lima puluh tokoh yang gagasannya sungguh mengubah cara kita memandang koperasi di Indonesia? “Selain kamu, Fir, siapa lagi yang benar-benar mewarnai perjalanan koperasi kita, misalnya kamu dengan koperasi multipihak?” begitu kira-kira sapanya malam itu.
Saya menyebut lebih dari dua puluh nama beserta sumbangsih ide masing-masing. Sebagian sudah ia catat; sebagian lain ia minta saya jelaskan kontribusinya. Baginya, sebuah ide layak masuk bila telah melembaga dan diadopsi menjadi praktik luas, menjelma karya yang mapan, atau memengaruhi kebijakan dan regulasi, baik di masa lalu maupun ke depan.
Topik yang ia angkat terasa tepat dan visioner. Ia hendak menghubungkan api dinamika koperasi dengan kayu bakar berupa ide-ide yang menyokongnya. Bila buku itu terbit, ia akan menjadi sejarah gagasan insan koperasi, homo cooperativus Indonesia, yang jarang dituliskan secara sistematis. Sebuah upaya untuk menunjukkan bahwa koperasi tumbuh secara organik, kontekstual, dan senantiasa mengikuti arus zaman.
Perspektif itu segar. Tak banyak yang melihat dinamika perkoperasian melalui lensa pergulatan ide di balik layar. Ketika ia meminta saya turut membantu, saya menjawab tanpa ragu, “Siap, Bang.” Sebab melalui penelusuran sejarah ide, gerakan koperasi dapat melakukan retrospeksi sekaligus refleksi. Bayangkan dua puluh tahun mendatang, generasi baru membaca buku itu, ia akan menjadi kaca benggala yang membuat mereka lebih mawas dan sadar akan akar intelektual gerakannya.
***
Di antara nama-nama yang saya sebut malam itu, baik yang telah wafat maupun yang masih hidup, yang senior maupun yang muda, saya menyebut satu nama: Irsyad Muchtar. Ia terkekeh.
Ya, tanpa kehadirannya, sulit membayangkan referensi “100 Koperasi Besar Indonesia” yang diperbarui secara berkala. Bak mistar, melalui Majalah Peluang, ia memberi ukuran. Ia menghadirkan standar. Ia membuat koperasi tidak sekadar wacana, melainkan angka, data, dan potret konkret yang dapat ditelaah.
Dengan “mistar” aset koperasi, ia memotret gerakan dari ujung Jawa hingga pelosok Aceh, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan pulau-pulau lain. Itu bukan kerja ringan. Ia pernah berkata, “Cukup beri saya dukungan transportasi, Fir. Akan saya potret semua koperasi.” Kalimat itu bukan retorika. Ia benar-benar melakukannya.
Sebagai wartawan senior, ia menempuh perjalanan lintas kota dengan tubuh tambunnya yang khas: datang, melihat, mencatat, merekam. Tanpa kerja-kerja sunyi itu, kita akan kesulitan menangkap mozaik koperasi Indonesia yang membentang dari Barat sampai Timur, lengkap dengan kekhasan sektoralnya. Selain sebagai mistar, ia juga ibarat katalog hidup gerakan koperasi.
Perbendaharaan datanya luas dan mendalam. Ia menekuni perannya dengan kesadaran sejarah. “Orang cari data koperasi itu susah, termasuk teman-teman ICA,” ujarnya suatu kali. Dari situlah ia menyajikan buku “100 Koperasi Besar Indonesia” secara bilingual (Indonesia dan Inggris) agar dunia internasional dapat melihat dengan lebih tepat bagaimana Indonesia membangun koperasi.
Ia peduli pada produksi pengetahuan. Buku terbarunya, “Apa dan Siapa 100 Orang Koperasi Indonesia” (2024), dapat dibaca sebagai embrio dari gagasan “100 Ideas” yang ingin ia rampungkan. Di sana ia memotret seratus tokoh dalam berbagai kategori. Saya kebetulan termasuk salah satu yang ia ulas. Saya menduga, buku “100 Ideas” akan melangkah lebih jauh: menghubungkan orang, gagasan, relevansi, dan implikasinya bagi perjalanan koperasi Indonesia hari ini.
***
“Saya ke mana-mana bawa buku Fir,” katanya sambil menunjukkan dua buku di tasnya, di selasar aula Kabupaten Simalungun akhir 2025 lalu. Ia wartawan yang terus membaca. Literasinya luas, lintas referensi.
Ketika saya menyebut buku “Membela Martabat Diri dan Indonesia, Koperasi Restoran Indonesia di Paris” karya JJ Kusni, ia tersenyum. “Sudah lama saya baca itu. Bagus sekali. Kalau difilmkan, kuat sekali pesannya.” Ia membaca bukan sekadar untuk tahu, melainkan untuk memahami konteks dan daya hidup sebuah gagasan.
Tak heran esai-esainya di halaman akhir Majalah Peluang selalu terasa tajam dan padat. Dengan gaya yang mengingatkan pada “Catatan Pinggir” ala Goenawan Mohamad di Majalah Tempo, ia sering menggunakan satu-dua kata sebagai judul. Pilihan katanya kaya, referensinya silang-menyilang, kalimatnya ekonomis.
Irsyad sulit dicari pembandingnya, memimpin media yang secara khusus mengangkat isu koperasi, namun dengan standar profesional yang tinggi. Majalahnya hadir dengan desain dan tata letak yang apik. Bukan kerja medioker, bukan kerja sambilan, melainkan kerja seorang yang benar-benar memiliki passion.
Dalam setiap pertemuan, ia gemar berkisah, kadang tentang ironi birokrasi, kadang tentang cerita-cerita undercover. Dengan nada setengah berkelakar namun sarat makna, ia pernah bercerita tentang masa Menteri Bustanil Arifin yang gemar anggrek. Suatu hari bunga hadiah diletakkan di lift kementerian agar dinikmati banyak orang, disertai pesan sederhana, “Jangan dipindah-pindah”.
Waktu berlalu, anggrek itu layu dan mengering, hingga Menteri marah melihatnya tak sedap dipandang dan bertanya mengapa tidak dibuang. Jawaban yang muncul justru polos sekaligus ironis, “Dulu Bapak perintahkan jangan dipindah-pindah”. Sebuah anekdot sederhana tentang perintah yang dipahami secara kaku, tentang birokrasi yang bisa menjadi robotik dan feodal.
Di balik ceritanya selalu ada kritik. Ia wartawan yang menjaga jarak serta kritis terhadap relasi kuasa yang timpang dan kebijakan yang tidak berpihak pada koperasi.
***
Kini Si Mistar itu telah pergi. Banyak yang merasa kehilangan. Forum Koperasi Besar Indonesia pasti merasa kehilangan penggagasnya. Pembaca setia Majalah Peluang kehilangan esai-esai pamungkasnya. Gerakan koperasi kehilangan suaranya yang khas dalam seminar, simposium, dan malam penghargaan.
Di usia 67 tahun, ia menuntaskan tugas sejarahnya. Ia bukan sekadar wartawan. Dalam istilah kontemporer, ia adalah ecosystem enabler, yang memungkinkan kita mengakses ragam potret koperasi, sekaligus mempertemukan satu sama lain dalam satu ekosistem pengetahuan dan jaringan antaraktor.
Ia bukan hanya menulis. Ia menandai zaman. Ia bukan hanya mencatat sejarah. Ia menjadi bagian darinya. Selamat jalan, Bang. []
*Obituari ini merupakan versi utuh dari yang sudah dipublikasi sebelumnya di:Â https://peluangnews.id/irsyad-muchtar-si-mistar-koperasi-indonesia-berpulang/

Post a comment