Kita hidup di zaman ketika krisis tidak lagi datang sendirian. Krisis pangan, energi, iklim, ketimpangan ekonomi, hingga rapuhnya rantai pasok global, semuanya saling bertaut—membentuk “jebakan krisis” yang sulit diurai dengan resep lama. Dalam situasi seperti ini, sekadar memperbaiki sistem sedikit demi sedikit sering kali tidak cukup. Di sinilah buku Pathways to Regeneration: Hope and Resilience through Anticipatory Design karya Scott Morris & Stephen DeMeulenaere (2025) ini menawarkan sudut pandang yang segar sekaligus menantang: solusi masa depan tidak boleh hanya “mengurangi kerusakan”, melainkan harus benar-benar membangun sistem yang mampu memulihkan kehidupan.
Buku ini membicarakan satu persoalan besar: mengapa sistem ekonomi modern tampak semakin maju, tetapi semakin rentan dan tidak adil. Ukuran keberhasilan ekonomi yang dominan seperti pertumbuhan dan PDB sering tampak meyakinkan, namun kerap menutup mata dari biaya tersembunyi: degradasi tanah, krisis air, runtuhnya keanekaragaman hayati, dan pecahnya kohesi sosial. Ironisnya, banyak “kemajuan” ekonomi justru dibangun dengan mengorbankan masa depan. Pathways to Regeneration mengajak pembaca mengakui bahwa kerusakan ini bukan kebetulan—melainkan konsekuensi dari desain sistem yang salah.
Lalu mengapa pembahasannya urgen? Karena buku ini menegaskan bahwa dunia sudah memasuki fase di mana gangguan besar bukan lagi kemungkinan, melainkan keniscayaan. Pertanyaannya bukan “apakah krisis akan datang”, tetapi “apakah kita punya sistem yang sanggup bertahan dan pulih setelah krisis terjadi”. Dengan kata lain: kita membutuhkan resiliensi. Namun resiliensi saja tidak cukup bila hanya berarti bertahan dalam penderitaan. Maka buku ini memperkenalkan ide kunci: regenerasi—yakni kemampuan sistem ekonomi untuk tidak hanya bertahan, tetapi memperbaiki ekosistem, memperkuat hubungan sosial, dan mengembalikan keseimbangan hidup.
Solusi yang ditawarkan bukan utopia tanpa peta jalan. Buku ini memperkenalkan Anticipatory Design, sebuah cara berpikir dan merancang masa depan yang bersifat antisipatif dan sistemik. Prinsipnya sederhana namun radikal: alih-alih memaksa manusia menyesuaikan diri dengan sistem yang rusak, kita mendesain ulang sistemnya agar manusia dapat hidup lebih sehat, adil, dan bermartabat. Dari sini pembaca diajak melihat kembali bahwa uang, pasar, dan institusi ekonomi bukan “hukum alam”, melainkan teknologi sosial yang bisa didesain ulang.
Bagian paling menggugah dari buku ini adalah pesan bahwa ekonomi yang sehat memerlukan keragaman alat tukar—sebuah “ekosistem moneter”, bukan ketergantungan pada satu jenis uang yang mendorong kompetisi dan ekstraksi. Buku ini menampilkan berbagai pendekatan seperti community currencies, mutual credit, time banks, koperasi, commons, serta pemanfaatan teknologi digital untuk transparansi dan tata kelola yang inklusif. Semuanya bermuara pada satu tujuan: membangun ekonomi yang memperkuat komunitas dan ekologi, bukan melemahkannya.
Pathways to Regeneration bukan sekadar buku teori. Ia adalah undangan untuk mengambil kembali kendali atas masa depan: merancang ulang cara kita menukar nilai, membangun usaha, dan mengorganisir kehidupan. Jika Anda ingin memahami mengapa krisis terjadi berulang, sekaligus mencari jalan praktis menuju sistem yang lebih adil dan tahan guncangan, buku ini layak dibaca—bukan sebagai bacaan tambahan, tetapi sebagai peta jalan menuju masa depan yang masih mungkin diselamatkan. []
Â

Post a comment