Mengapa Koperasi Relevan bagi Petani dan Sektor Pertanian?
Sektor pertanian memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan sektor ekonomi lainnya. Kegiatan produksi berlangsung di lahan yang tersebar, melibatkan jutaan petani kecil, menghadapi risiko alam yang tinggi, serta beroperasi dalam rantai nilai yang panjang. Kondisi ini menjadikan petani sering berada pada posisi yang lemah dalam sistem ekonomi. Dalam konteks tersebut, koperasi muncul sebagai bentuk kelembagaan ekonomi yang sangat relevan bagi petani dan usaha pertanian. Koperasi tidak hanya berfungsi sebagai organisasi ekonomi, tetapi juga sebagai mekanisme kolektif yang memungkinkan petani mengatasi berbagai keterbatasan struktural yang mereka hadapi.
Read moreBila Koperasi Desa Merah Putih Sukses
Oleh: Firdaus Putra, HC. Pemerintah telah berhasil membentuk 83.353 unit Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) (Simkopdes.go.id, 23 Februari 2026) di seluruh desa/ kelurahan Indonesia. Program skala nasional itu tiada presedennya dalam sejarah republik. Pemerintah kerahkan berbagai kementerian/ lembaga dengan kebijakan serta regulasi untuk menyukseskan program itu.
Read moreMemahami Pikiran Prabowo Subianto: dari Shareholder Capitalism ke Stakeholder Economy dan Relevansi Koperasi Multipihak
Oleh: Firdaus Putra, HC. Selama lebih dari setengah abad terakhir, paradigma dominan dalam dunia bisnis adalah shareholder capitalism. Dalam model ini, perusahaan dipandang terutama sebagai instrumen untuk memaksimalkan keuntungan bagi pemegang saham. Logika tersebut diperkuat oleh gagasan ekonom seperti Milton Friedman yang pada 1970 menyatakan bahwa tanggung jawab sosial bisnis adalah meningkatkan keuntungannya, selama tetap berada dalam koridor hukum. Pandangan ini membentuk praktik korporasi global: kinerja perusahaan diukur terutama dari laba, nilai saham, dan pengembalian investasi bagi pemilik modal.
Read moreSi Mistar Irsyad Muchtar Berpulang
Sebuah Obituari Mengenang Mendiang Irsyad Muchtar Oleh: Firdaus Putra, HC. Dinamika koperasi Indonesia selalu bermula dari pergumulan ide. Ide menjelma praktik, menjelma karya, menjelma kebijakan, dan pada akhirnya menjelma sejarah. Setiap epos melahirkan gagasan-gagasan yang membentuk wajah zamannya. Dan gagasan yang kuat, yang berdaya ubah dan berdaya tahan, akan melembaga. Gagasan itu akan menjadi bagian dari fondasi gerakan koperasi Tanah Air.
Read moreIni Lho Perbedaan Antara Koperasi Karyawan dengan Koperasi Pekerja!
Dalam berbagai diskusi perkoperasian, istilah koperasi karyawan dan koperasi pekerja sering digunakan secara bergantian. Padahal, keduanya merujuk pada dua model koperasi yang berbeda secara mendasar, baik dari segi tujuan ekonomi, struktur kepemilikan, maupun peran koperasi dalam kehidupan anggotanya.
Read moreMengapa Koperasi Menghilang dari Pendidikan Ekonomi dan Bisnis?
Oleh: Firdaus Putra, HC. Belum lama ini Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menyatakan akan wajibkan mata kuliah koperasi di perguruan tinggi sebagai strategi memperkuat peran koperasi dalam perekonomian nasional (23/12). Arah kebijakan itu disambut positif oleh gerakan koperasi serta akademisi Tanah Air. Beberapa organisasi seperti ADEKMI, FORKOPI, IKOPIN dan lainnya menyambut dengan berbagai kajian dan FGD. Mereka mulai menyiapkan langkah bagaimana integrasikan koperasi dalam pendidikan tinggi.
Read morePathways to Regeneration: Jalan Baru Keluar dari Krisis
Kita hidup di zaman ketika krisis tidak lagi datang sendirian. Krisis pangan, energi, iklim, ketimpangan ekonomi, hingga rapuhnya rantai pasok global, semuanya saling bertaut—membentuk “jebakan krisis” yang sulit diurai dengan resep lama. Dalam situasi seperti ini, sekadar memperbaiki sistem sedikit demi sedikit sering kali tidak cukup. Di sinilah buku Pathways to Regeneration: Hope and Resilience through Anticipatory Design karya Scott Morris & Stephen DeMeulenaere (2025) ini menawarkan sudut pandang yang segar sekaligus menantang: solusi masa depan tidak boleh hanya “mengurangi kerusakan”, melainkan harus benar-benar membangun sistem yang mampu memulihkan kehidupan.
Read moreDari Common Ownership ke Co-ownership, Evolusi Koperasi di Era Ekonomi Kolaboratif
Oleh: Firdaus Putra, HC. Selama puluhan tahun, koperasi di Indonesia dipahami sebagai badan usaha yang dimiliki bersama oleh sekelompok orang dengan kepentingan yang sama. Petani membentuk koperasi petani, konsumen membentuk koperasi konsumen, pekerja membentuk koperasi pekerja. Logika ini tidak keliru. Bahkan, di situlah akar moral koperasi tumbuh: solidaritas, kesetaraan, dan demokrasi ekonomi. Namun, ketika struktur ekonomi berubah semakin kompleks dan saling terhubung, pertanyaan mendasarnya adalah: apakah kerangka kepemilikan yang homogen itu masih memadai?
Read moreMenyelami Co-ownership dalam Perkoperasian
Resensi Buku Adopsi dan Konfigurasi Koperasi Multipihak Early Adopters di Indonesia Oleh: Majalah Peluang Apa itu Koperasi Multi Pihak (KMP)? Apakah sejenis aggregator atau pusat koperasi? lalu apa bedanya dengan pusat-pusat koperasi di level provinsi atau induk-induk koperasi di level nasional. Masih banyak pertanyaan lainnya di seputar KMP, model koperasi yang terbilang anyar di Indonesia.
Read moreCU Surplus Gen X dan Defisit Gen Z, Terancam Involusi
Oleh: Firdaus Putra, HC. – Ketua Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) Liputan tentang Koperasi Marsudi Mulyo (KMM) pada PICU Edisi Mei-Juni 2025, mengonfirmasi hasil survei ICCI (Juni, 2022). Per Mei 2025 anggota mereka capai 6.749 orang. Bila dibagi berdasar demografi, 8,2% tergolong Generasi Z dan 27,7% merupakan Generasi Y. Generasi yang dominan adalah X, sebanyak 43,6% dan sisanya, 20,5% termasuk Generasi Baby Boomer.
Read more










