Mengapa Koperasi Menghilang dari Pendidikan Ekonomi dan Bisnis?
Oleh: Firdaus Putra, HC. Belum lama ini Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menyatakan akan wajibkan mata kuliah koperasi di perguruan tinggi sebagai strategi memperkuat peran koperasi dalam perekonomian nasional (23/12). Arah kebijakan itu disambut positif oleh gerakan koperasi serta akademisi Tanah Air. Beberapa organisasi seperti ADEKMI, FORKOPI, IKOPIN dan lainnya menyambut dengan berbagai kajian dan FGD. Mereka mulai menyiapkan langkah bagaimana integrasikan koperasi dalam pendidikan tinggi.
Read morePathways to Regeneration: Jalan Baru Keluar dari Krisis
Kita hidup di zaman ketika krisis tidak lagi datang sendirian. Krisis pangan, energi, iklim, ketimpangan ekonomi, hingga rapuhnya rantai pasok global, semuanya saling bertaut—membentuk “jebakan krisis” yang sulit diurai dengan resep lama. Dalam situasi seperti ini, sekadar memperbaiki sistem sedikit demi sedikit sering kali tidak cukup. Di sinilah buku Pathways to Regeneration: Hope and Resilience through Anticipatory Design karya Scott Morris & Stephen DeMeulenaere (2025) ini menawarkan sudut pandang yang segar sekaligus menantang: solusi masa depan tidak boleh hanya “mengurangi kerusakan”, melainkan harus benar-benar membangun sistem yang mampu memulihkan kehidupan.
Read moreDari Common Ownership ke Co-ownership, Evolusi Koperasi di Era Ekonomi Kolaboratif
Oleh: Firdaus Putra, HC. Selama puluhan tahun, koperasi di Indonesia dipahami sebagai badan usaha yang dimiliki bersama oleh sekelompok orang dengan kepentingan yang sama. Petani membentuk koperasi petani, konsumen membentuk koperasi konsumen, pekerja membentuk koperasi pekerja. Logika ini tidak keliru. Bahkan, di situlah akar moral koperasi tumbuh: solidaritas, kesetaraan, dan demokrasi ekonomi. Namun, ketika struktur ekonomi berubah semakin kompleks dan saling terhubung, pertanyaan mendasarnya adalah: apakah kerangka kepemilikan yang homogen itu masih memadai?
Read moreBersama FAO dan Kolaborasi Multipihak, ICCI Dukung Regenerasi Petani Indonesia
JAKARTA – Sebagai salah satu penyelenggara, Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI), memandang Farmers’ Regeneration Summit bukan sekadar agenda seremonial, melainkan momentum strategis untuk mengonsolidasikan arah regenerasi petani Indonesia berbasis kewirausahaan, inovasi, dan kelembagaan koperasi.
Read moreMenyelami Co-ownership dalam Perkoperasian
Resensi Buku Adopsi dan Konfigurasi Koperasi Multipihak Early Adopters di Indonesia Oleh: Majalah Peluang Apa itu Koperasi Multi Pihak (KMP)? Apakah sejenis aggregator atau pusat koperasi? lalu apa bedanya dengan pusat-pusat koperasi di level provinsi atau induk-induk koperasi di level nasional. Masih banyak pertanyaan lainnya di seputar KMP, model koperasi yang terbilang anyar di Indonesia.
Read moreRefleksi Tata Kelola Kebijakan dan Ekosistem Lembaga Think Tank
Pada Sabtu, 22 November 2025, ICCI menghadiri undangan “Temu dan Diskusi Terbatas” yang diinisiasi oleh Forum Indonesia Muda (FIM) berkolaborasi dengan Nalar Institute. Bertempat di Kopikina, Cikini, Jakarta Pusat, peserta diajak mendiskusikan perihal “Refleksi Tata Kelola Kebijakan Nasional dan Ekosistem Lembaga Riset Think Tank di Indonesia”. Ilham Nasai, Direktur Kerjasama dan Hubungan Luar Negeri ICCI, hadir bersama 40an lembaga think tank dan CSO lainnya.
Read moreCU Surplus Gen X dan Defisit Gen Z, Terancam Involusi
Oleh: Firdaus Putra, HC. – Ketua Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI) Liputan tentang Koperasi Marsudi Mulyo (KMM) pada PICU Edisi Mei-Juni 2025, mengonfirmasi hasil survei ICCI (Juni, 2022). Per Mei 2025 anggota mereka capai 6.749 orang. Bila dibagi berdasar demografi, 8,2% tergolong Generasi Z dan 27,7% merupakan Generasi Y. Generasi yang dominan adalah X, sebanyak 43,6% dan sisanya, 20,5% termasuk Generasi Baby Boomer.
Read moreKoperasi Petani Profesional di China, Menakar Daya Hidup dan Dukungan Pemerintah
Artikel ini disarikan dari penelitian Liu, Cao, Wang & Liu, 2024, “Viability, Government Support and the Service Function of Farmer Professional Cooperatives—Evidence from 487 Cooperatives in Heilongjiang, China” ⊕ Artikel ini dapat menjadi benchmark kajian dalam konteks Indonesia adalah program Koperasi Desa Merah Putih. Kesamaan keduanya terletak pada skala pengembangannya yang besar. Meski terdapat perbedaan dalam konteks waktu pengembangan. Di China pengembangan Koperasi Profesional Petani ini terjadi selama 20 tahun. Koperasi di China tumbuh massif pasca UU khusus Koperasi Petani tahun 2006 ⊕.
Read moreResiprokalitas Komunitas, Solusi Kerentanan Finansial Pekerja Informal
Oleh: Binandar D. Setiawan* Tan Malaka di bukunya Rencana Ekonomi Berjuang (1945), menulis “…kalau begitu bukan saja mata pencaharian, atau alat penghasil yang mesti dimasyarakatkan lagi. Kehidupan sosial sendiri, bukankah mesti dimasyarakatkan pula. Bagaimana bisa diadakan rencana kalau tiap-tiap pembeli dan penghasil masih berdiri atas perseorangan?”
Read moreMenyoal Klaim Fadli Zon Ihwal Margono Bapak Koperasi
Oleh: Firdaus Putra, HC. Ternyata pandangan Fadli Zon soal Margono Djojohadikusumo lebih layak menyandang gelar “Bapak Koperasi”, tak hanya disampaikan pada Agustus 2025 kemarin. Di momen peluncuran dan bedah buku “Margono Djojohadikusumo, Pejuang Ekonomi dan Pendiri BNI 46” karya Jimmy S Harianto dan HMU Kurniadi yang digelar Kompas Institute (9/8), ia mengatakan “Mungkin lebih tepat Pak Margono disebut Bapak Koperasi tapi Bung Hatta Bapak Ekonomi Kerakyatan”.
Read more










